VIVA   –  Polemik pemilihan Ketua Sistem Siswa Intra Sekolah (OSIS) balik terjadi. Kali ini, peristiwa tersebut ditemukan di salah satu madrasah SMA Negeri 6 di Tanah air Depok, Jawa Barat. Kasus tersebut pun viral setelah diunggah seorang peserta di media sosial (Medsos).

“Selamat malam semuanya, sebelumnya terimakasih kepada teman, kangmas kelas, alumni, bapak ibu guru atas semua dukungan doa, support bahkan membantu secara langsung baik secara cara mempromosikan, mengorbankan waktu & sumbangsih pemikirannya, ” kata siswi berinisial EC tersebut di akun instagram -nya

Ia juga menuliskan peromohonan maaf jika dirinya harus mundur dari pemilihan calon Ketua OSIS di SMAN 6.

“Dengan berlapang dada dan ikhlas bahwa E harus mundur dari pemilihan bahan Ketua OSIS SMAN 6 Masa 2020-2021, karena terdapat prinsip-prinsip yang tidak sesuai untuk melakukan pemilihan ulang, ” katanya.

EC juga minta maaf sebab tidak bisa mewujudkan harapan lantaran teman yang sudah mendukung. “Biarlah ini menjadi pelajaran agar bertambah baik ke depannya, dan untuk teman-teman yang masih bertahan aman berjuang, ” tuturnya

“Akhir kata dari saya, tenteram keadilan, salam persatuan, dan salam perjuangan. Hidup pendidikan Indonesia, terimakasih, ” tulisnya dalam akhir daftar di medsos tersebut.

Menanggapi hal tersebut, Kepala SMAN 6 Depok, Abdul Fatah memastikan kasus ini tidak ada kaitannya dengan persoalan petunjuk.

“Jadi sebenarnya tersebut yang pertama kan memang sistemnya itu ternyata mereka tidak diuji coba dulu. Ternyata memang sistem tidak bekerja dengan harapan, ” katanya

Menurutnya, perkara itu murni karena persoalan sistem yang ada di aplikasi online. “Ada suatu kesalahan kemudian itu para panitia baik guru maupun siswa akhirnya rapat kembali, ” jelasnya

Abdul mengungkapkan, dari hasil keputusan rapat itu juga melibatkan semua calon dengan akhirnya memutuskan bahwa pemilihan tersebut akan diulang secara luar jaringan.

“Kalau memang tersebut suatu kesepakatan bersama, saya pikir kenapa enggak. Semua pihak telah menerima, ada berita acaranya, serta ada segala macam. Ya sudah kalau semua bisa menerima ya tidak masalah, ” tuturnya.

Persoalan terjadi ketika lupa satu kandidat mengambil keputusan buat pengunduran diri. Ia adalah EC, kandidat yang disebut-sebut meraih pandangan tertinggi dengan perolehan 43, 55 persen dari sembilan calon Pemimpin OSIS. Namun demikian, Abdul menganggapnya belum final.

“Iya tapi kan belum dianggap menang, seperti itu. Kaget juga karena semua punya penafsiran seperti itu, ” ucapnya.

Masa disinggung apakah ini ada kaitannya dengan isu agama seperti yang ramai diperbincangkan di medsos, Abdul pun kembali membantah.

“Oh jangan diarahkan ke kian, itu salah sekali. Kita serupa harus menjaga itu, ” katanya.

Baca serupa:   Jakarta Amburadul Prawacana Megawati, Ridwan Saidi: Dia Lengah