VIVA –  Masyarakat Indonesia sebentar lagi akan dihadapkan pada bengkak atau tatanan baru di pusat pandemi yang belum usai itu. New normal merupakan langkah percepatan penanganan Covid-19 dalam bidang kesehatan, sosial, dan ekonomi.

Skenario new normal dapat dijalankan dengan mempertimbangkan kesiapan daerah & hasil riset epidemiologis di daerah terkait.

Kata Wajar sebetulnya dalam bahasa Inggris sudah dijadikan nomina, makanya jadi New Normal.   Badan bahasa lalu membuat padanannya menjadi Kenormalan. Karena kalau normal itu adjektiva cakap sifat, jadi Kenormalan Baru,   begitulah kata ahli bahasa Prof. Dr. Rahayu Surtiati Hidayat dari Universitas Indonesia.

& di sini, Presiden Jokowi membuktikan bahwasannya ia telah meminta segenap jajarannya mempelajari kondisi lapangan untuk mempersiapkan tatanan normal yang gres di tengah pandemi Covid-19.

Saat ini sudah ada 4 provinsi serta 25 kabupaten/kota yang tengah bersiap menuju new normal. “Saya minta protokol beradaptasi dengan tatanan normal baru tersebut yang sudah disiapkan oleh Departemen Kesehatan ini disosialisasikan secara kekar kepada masyarakat, ” kata Jokowi.

Penerapan new biasa nantinya bersamaan dengan pendisiplinan aturan kesehatan yang dikawal jajaran Polri dan TNI.

Pada balik munculnya istilah tatanan wajar baru ada banyak hal yang mengandung unsur pro maupun kontra di dalamnya. Karena data Covid-19 sendiri di Indonesia masih tetap naik terhitung per tanggal 06 Juni 2020 yang terkonfirmasi tentu 30. 514, dirawat 18. 806, sembuh 9. 907, dan wafat 1. 801 (sumber: covid19. go. id).

Hal itulah yang membuat pro dan anti di masyarakat, karena sangat tak mungkin bahwasannya Kebijakan New Wajar ini di terapkan di Indonesia, mengingat kasus Covid-19 di Nusantara sendiri masih sangat tinggi.

Di sisi lain kalau new normal ini tidak diterapkan maka yang terjadi adalah perekonomian di Indonesia akan anjlok. Hal-hal itulah yang membuat terjadinya pro dan kontra di masyarakat.

Dalam hal ini penuh cara yang dilakukan masyarakat pada persiapan menuju era new umum di tengah pandemi ini, dalam sisi lain ada yang senang dan memupuk usaha  yang sangat antusias karena sudah bisa beraktivitas seperti biasa yang sudah periode mereka nantikan seperti kerja kaya biasa, pergi ke mal, atau sekadar nongkrong bertemu teman seimbang bahkan mengunjungi keluarga yang jauh.

Akan tetapi tetap menerapkan protokol kesehatan yang telah diterapkan. Namun tak sedikit dengan menentang karena mereka menganggap kalau new normal ini diterapkan, oleh karena itu akan membuat situasi semakin pelik mengingat kurva angka positif Covid-19 masih meningkat belum ada level penurunan.

Jika new normal ini benar-benar dijalankan, dalam sini peran dari media menjelma hal yang paling peting, pokok media menjadi hal yang menyesatkan utama dalam penyampaian pesan & masyarakat ikut berkecimpung langsung pada statement-statement tersebut.

Di sini media harus menyajikan berita-berita yang aktual/positif sambil  mensosialisasikan kepada masyarakat terkait dengan protokol-protokol kesehatan tubuh dalam penerapan new normal ini.

Sangat disayangkan di masa pandemi ini media penuh sekali membagikan informasi yang kita belum tahu keakuratannya atau bahkan bisa tergolong informasi hoax, hal ini membuat masyarakat menjadi bimbang, mana yang harus mereka terapkan atau mana yang harus itu jalani demi kelangsungan hidup itu selama pandemi ini belum sudah.

Jadi penulis berpaham bahwasannya jika memang nantinya rencana new normal ini yang menjadi jalan keluar yang perlu dilakukan adalah mempersiakannya semua secara komperhensif, mulai dari kajian dari para ahli, kajian tentang konsep penerapannya, peralatan medis yang digunakan, kesiapan para tenaga medis, hingga sosialisasi ke masyarakat, sehingga pemerintah siap dengan segala risiko yang berlaku.

Dan juga di sini peran media juga sangat dibutuhkan atau bisa dikatakan juga sangat penting karena jika pemberitaan dalam media baik dan ikut mensosialisasikan  kepada masyarakat terkait dengan implementasi new nomal ini. Maka dengan terjadi adalah masyarakat akan jauh lebih siap.

Dan  sebaliknya jika tidak, maka yang terjadi adalah masyarakat akan dibuat stres dengan pemberitaan dan juga akan memperbanyak jumlah kasus membangun karena kurang teredukasi terkait secara penerapan new normal ini.

Jika semua saling berpegang mulai dari pemerintah, media, hingga masyarakat melalui new normal tersebut akan diharapkan masyarakat dapat melaksanakan kehidupan seperti biasanya meskipun kudu mematuhi aturan kesehatan, seperti mencantumkan masker dan menjaga jarak, misalnya.

Dan diharapkan semua itu sangat perlu diperhatikan biar new normal ini bisa berlaku dengan baik di kehidupan asosiasi, sampai nantinya jika pandemi Covid-19 ini berakhir kehidupan akan menjelma normal kembali. (Penulis: Firda Al Hilal, Mahasiswi Prodi Ilmu Komunikasi, Universitas Muhammadiyah Malang)