VIVA   –  Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo, serta enam jamaah lainnya sebagai tersangka suap izin ekspor benih Lobster.  

Wakil Ketua KPK Nawawi Pomolango, membeberkan kronologi kasus hingga penangkapan Edhy serta sejumlah pihak yang diamankan tersebut.

Mulanya, diterangkan Nawawi, pihaknya menerima info dugaan penerimaan uang dengan penyelenggara negara pada 21 Nov sampai 23 November 2020. Selanjutnya, kata Nawawi, tim KPK kembali menerima informasi adanya transaksi pada rekening bank yang diduga sebagai penampung negara.

“KPK kembali menerima informasi adanya transaksi pada rekening financial institution yang diduga sebagai penampung negara sebagai kepentingan penyelenggara negara buat pembelian sebagai barang di luar wilayah Indonesia, ” ujarnya pada kantor KPK, Jl Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Kamis 26 Nov 2020.

Baca juga:   Edhy Prabowo Minta Maaf Telah Mengkhianati Jokowi dan Prabowo

Atas informasi tersebut, kata Nawawi, pada Selasa 24 November 2020, KPK bergerak dan membagi beberapa tim. Ada yang di area Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Depok dan Bekasi, guna menindak lanjuti informasi yang diperoleh tersebut.

“Sekitar pukul 00. 30 tim langsung melakukan pengamanan pada beberapa lokasi, ” kata Nawawi.

Di Bandara Soekarno-Hatta, penyidik langsung mengamankan EP, IRW, SAF, ZN, YD, YN, KKLK dan SMT.

“Kemudian di rumah masing-masing, SJT, SWD, DP, DD, NT, CM, AF, SA dan MY, ” katanya.

Selanjutnya, para tersangka langsung dibawa ke Gedung KPK untuk pemeriksaan lebih lanjut, sampai dilakukan gelar perkara dan ditentukan status hukumnya.