VIVA   –  Direktur Mendirikan Umrah dan Haji Khusus Departemen Agama, Arfi Hatim, mengatakan kalau pelaksanaan ibadah umrah di pusat pandemi COVID-19 ini ada kaum persyaratan dan ketentuan, khususnya aturan kesehatan yang harus diikuti dan dipatuhi seluruh pihak.

“Mulai dari Tanah Air, selama perjalanan, sampai di Arab Saudi termasuk tadi melaksanakan ibadah umrah dan terakhir sampai kembali ke Negeri, ” kata Arfi Hatim dalam acara dialog “Perkembangan Terkini: Umrah Aman Saat Pandemi” meniti siaran YouTube BNPB, Jakarta, Rabu, 11 November 2020.

Pra Indonesia memberangkatkan  jemaah umrah di dalam 1 November 2020, pemerintah Arab Saudi mengeluarkan beberapa kebijakan petunjuk, khususnya protokol kesehatan penyelenggaraan ibadah umrah, terutama pada waktu pelaksanaan  umrah di Masjidil Haram.

“Betul diatur, ditata sedemikian rupa, physical distancing artinya penerapan protokol kesehatan sangat erat. Ada pemandu yang mendampingi untuk memastikan bahwa pelaksanaan ibadah umrah di Masjidil Haram mulai lantaran thawaf, sya’i, sampai selesai tersebut betul-betul  sesuai dengan protokol kesehatan tubuh, ” tuturnya.

Jadi, lanjut dia, ada petugas khusus yang ditugaskan memastikan hal tersebut. Mengingatkan  serta membimbing jemaah tiba dari pengambilan miqot kemudian mengakar ke Masjidil Haram dengan sopan, diatur sedemikian rupa.

“Sehingga ini semata-mata untuk menyampaikan jaminan bahwa protokol kesehatan mampu diterapkan, ” ujarnya.

Arfi melihat, kedudukan sejauh ini proses pelaksanaan ibadah umrah di Mekkah, Arab Saudi berjalan lancar. “Perlu diingat, kesempatan yang diberikan di luar masyarakat negara Arab Saudi sejak agenda 1 November ini adalah pada konteks uji coba, dan tetap dari uji coba ini bakal ada beberapa evaluasi-evaluasi, ” tuturnya.

Bahwa, di lapangan ada beberapa hal dinamika dibanding kebijakan pemerintah Arab Saudi dengan telah disampaikan sebelum 1 November,   tentu harus dipahami dan mematuhi. Dalam konteks ini untuk pencegahan serta perlindungan terhadap masyarakat negara yang melaksanakan ibadah umrah,   termasuk warga negara Indonesia.

“Sehingga dinamika-dinamika tersebut kita pahami sebagai satu bentuk pencegahan, yang perlu diambil dalam konteks bahwa memberi kepastian terhadap kesehatan, keselamatan, dan keamanan publik ibadah umrah itu  sendiri dalam Arab Saudi, ” katanya.

Pengalaman Jemaah Umrah Terapkan Protokol Kesehatan

Seorang jemaah umrah, Nana Sudjana Gaido menceritakan soal cara perjalanan ibadah umrah ke Tanah Suci pada saat pandemi wabah Corona ini.

Yang pertama, bilamana 20 Oktober dia dihubungi dengan adanya kegiatan ibadah umrah. Persiapan dari awal ialah ketika calon jemaah umrah diberi tahu bahwa akan ada keberangkatan pada 1 November 2020.

Dari langkah itulah dia diurus dari mulai persyaratan-persyaratan serasi dengan yang dibutuhkan umrah dalam massa pandemi. Karena, beda umrah  saat masa normal.

“Salah satunya, ketika kita telah diterbitkan visa tanggal 30 Oktober kalau tidak salah, tanggal 31 sudah di bawah jam tujuh pagi, di salah satu tempat yang  ada di Jakarta daerah Sentral Park untuk dilaksanakannya protokol kesehatan swab , PCR sebagai satu diantara syarat  untuk naik ke pesawat, ” kata pendahuluan Nana dalam acara sama.

“Setelah itu kita diinformasikan, setelah swab , kita tidak diperbolehkan ketemu dengan keluarga ataupun siapa pun dengan mengantar, jadi kita harus clean and clear karena sesuai dengan seruan Arab Saudi seperti itu, ” sebutan dia.

Setelah tersebut, lanjut dia, pagi pukul 04. 30 WIB sudah menuju Bandara Soekarno-Hatta dan pada saat pukul  08. 00 WIB, semua persyaratan sertifikat sudah dinyatakan lengkap, seperti adanya visa, adanya bukti PCR, terus juga ada dokumen penunjang lainnya. “Maka, boarding kita bisa  dikeluarkan, Alhamdulillah   kita pada jam 10 sudah merembes ke pesawat, ” katanya.

Setibanya  di Jeddah, para-para jemaah Indonesia diatur, datangnya harus jaga jarak satu meter. Setelah itu, yang ditemui konternya yaitu konter Kementerian Kesehatan Arab Saudi. Di situ  diminta bukti PCR-nya dan para jemaah pun memberikan  dokumennya.

“Ternyata, kita di sana harus mengisi disclaimer , kita isyarat tangan, isian dari disclaimer ini harus tunduk  dan patuh kepada peraturan yang ada di Saudi. Jadi setelah kita mengikuti di sana, maka kita dievakuasi untuk menuju hotel, ” tuturnya.

Setelah di hotel, para jemaah ini diistirahatkan. Kata dia,   setelah dua hari, para publik di- swab kembali sebelum melaksanakan ibadah umrah.   Setelah di- swab mendapatkan hasilnya negatif, barulah jemaah bisa  melaksanakan ibadah  umrah yaitu,   thawaf, syai, dan tahalul. Selama pelaksanaan ibadah umrah, jemaah  didampingi oleh aparat kementerian Saudi.

Baca juga:   Penjaga Beberkan Kesulitan Ungkap Kematian Pendeta Yeremia