VIVA   –  Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X tak ingin tergesa-gesa menerapkan the new normal alias tatanan kehidupan lazim yang baru di wilayahnya karena kondisi kejangkitan virus corona belum stabil.

Sejumlah pasien positif Covid-19 di Yogyakarta, katanya, berkecenderungan memiliki riwayat perjalanan ke luar negeri maupun ke asing kota. Ada warga Yogyakarta masa berada di wilayahnya sehat dan sepulangnya dari perjalanan malah tertular virus corona.

“Faktanya kita di sini (DIY) sehat tapi begitu keluar pulang bawa penyakit. Selama kondisi ini yang terjadi kita jadi tidak bisa memprediksi Yogya pada peak-nya telah terjadi apa belum. Kalau telah [puncak] pasti mendarat. Sekarang sepertinya sudah landai, akan tetapi [ternyata] naik lagi, ” katanya di Yogyakarta, Kamis, 2 Juli 2020.

Baca: Elok, Pelajar SD di DIY Sumbangkan Tabungan untuk Penanganan Corona

Pemerintah Provinsi, katanya, masih akan melihat kecenderungan kejadian usai dibukanya sejumlah tempat pariwisata secara terbatas. Berdasarkan pantauan, pembukaan tempat pariwisata secara terbatas bakal menentukan langkah selanjutnya.

“Saya tidak mau tergesa-gesa (menerapkan new normal ). Ya kan, sampai kita lihat nanti dengan dibukanya pariwisata dan sebagainya itu kecenderungan-kecenderungan positif itu besar atau kecil, ” ujarnya.

Mengenai DIY yang masih menetapkan masa tanggap darurat bencana Covid-19 hingga 31 Juli, Sultan mengungkapan alasannya karena pemerintah masih bisa leluasa untuk menangani pasien Covid-19. Sebab, kalau status tanggap gawat dicabut, lalu ada orang dengan terjangkit corona dan harus diperiksa dengan metode PCR, peralatannya harus diadakan melalui lelang dengan batas waktu sampai 45 hari.

“Dengan kondisi darurat, sedia beli tinggal beli; yang penting dipertanggungjawabkan. Tapi kalau ora (tidak berstatus tanggap darurat bencana Covid-19) kudu lelang 45 hari, ” katanya.